PSIKOTERAPI MENGHADAPI KECANDUAN GAMES
Bagi orang tua pastinya yang memiliki anak akan tidak asing lagi dengan mendengar games, games dan games ketika sedang berdialog dengan anaknya. Dan pertanyaan yang kerap saya dengar adalah "Kenapa anak suka sekali bermain games?"
Dan tentu saja jawsbannya juga kerap terdengar dan tidak akan asing lagi di lidah saya karena jawabannya sangat sederhana sekali menurut saya, "games itu memang enak dan mengasyikkan kok". Lalu mereka benggong mendengar jawaban saya ini. Sebenarnya anak ingin sekali bisa ngobrol dengan orangtua, bercanda berkumpul dan saling mengisi ruang fantasinya yang masih luas, kemudian seperti biasa yang akan terdengar ditelinga anak anda adalah "nanti ya nak, ayah masih sibuk anu.... dan anu.." intinya anda sebagai orangtua tidak mau terganggu dengan dunia anda sendiri dan supeerrrr sibuk layaknya anda adalah satu satunya pemimpin di dunia ini.
Padahal mereka ingin sekali diskusi dan curhat dengan ayah atau ibunya. Tapi cara bicara orangtua tidak asyik bahkan cenderung menjengkelkan seperti "Apa?!", "kok bisa?" "Jangan!!" dan segudang kata kata penolakan penuh curiga. Seandainya mereka berani mereka akan bilang "ayah/ibu aku butuh perhatian kalian". Mereka butuh orangtua yang enak diajak ngobrol dan jadi teman. Dari konsul dan pembicaraan tidakn langsung beberapa remaja berkata kepada saya, "Belum dengar papa mama bicara saja, muka mereka sudah tidak enak dilihat."
Mereka mengeluhkan bicara dengan orangtua sering tidak nyambung, emosi dan penuh penekanan padahal anak belum selesai bicara. Dalam keadaan seperti itulah mereka melarikan diri mencari kegiatan yang asyik. Ternyata mereka temukan dalam bermain games. Di tengah dunia yang makin mekanistik, banyak anak yang kesepian.
Mereka butuh hiburan. Inilah yang dimanfaatkan produsen games di seluruh dunia.Mereka menggelontorkan ribuan hingga jutaan games. Games itu sendiri menjadi sebuah kegiatan alternatif yang menghibur bagi anak-anak.
Mereka berhasil menghibur lewat dunia maya. Dengan begitu anak yang mendapati kekecewaan, dan kurang diperhatikannya oleh orang tua akan mencari hiburan suasana hatinya kepada alternatif yang paling nyaman menurut mereka.
Karena dunia nyata makin tidak nyaman, malah kadang menyakitkan dan kurang adil bagi anak anak maupun remaja, maka sebagian anak melarikan diri ke dunia maya. Menurut salah satu satu pakar peneliti anak remaja, pernah meneliti di kalangan remaja tentang apa yang mereka inginkan dari orangtua. Dan akhirnya menemukanlah sebuah jawaban yang sama
Dua jawaban tertinggi itu adalah:
1).Bisa jadi tempat curhat
2).Ada waktu untuk lebih sering ngobrol". Jika kita tidak memberikan komunikasi yang baik pada anak-anak dengan segenap waktu, tenaga dan pikiran kita, maka hal itu bisa diambil alih oleh media audio-visual. Sesungguhnya kita sedang berlomba dengan media.
Meski games sangat disukai anak-anak tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh games terhadap anak kita. Hanya kita yang bisa melakukannya.
1).Tidak dapat menyebut atau memanggil nama anak kita dengan emosi, tidak mempunyai perhatian secara pribadi, anak kita dianggap sebagai konsumer/pelangan bagi games. Kitalah pribadi yang bisa memanggil namanya, memperhatikan dia, menatap matanya, dan berkomunikasi secara pribadi dengan dia.
2).Tidak dapat memangku anak kita atau memeluk anak kita.
3).Tidak bisa membacakan buku cerita sebelum tidur.
4) Games juga tidak pernah bisa mendengarkan anak kita. Dan sebuah pertanyaan yang sangat banyak di lampirkan orang tua anak anak, remaja bahkan sampai yang sudah dewasa sekalipun dan bila Anak Sudah Terlanjur Kecanduan Games (maniak games) adalah:
Bila anak terlanjur kecanduan games, apa yang orangtua akan lakukan selanjutnya?Kecenderungan orangtua adalah mengeluhkan anaknya. Minta supaya anaknya dikonseling, minta agar anaknya berubah, dan lain sebagainya. Ini terbalik.
Sesungguhnya, orangtualah yang perlu dikonseling. Orangtualah yang harus berubah terlebih dahulu. Jangan paksakan anak berhenti main atau mengurangi games terlebih dahulu. Tidak! Tetapi sementara anak belum bisa lepas dari games, orangtualah yang mengubah diri.Beberapa saran praktis bagi orang tua:
1.Sediakan waktu dan kebersamaan dengan anak lebih banyak. Menemani anak di rumah. Jika Anda sangat sibuk, aturlah sedemikian rupa. Anggap saja anak Anda sedang "sakit" dan perlu ditemani.
2.Mengembangkan cara berkomunikasi yang lebih enak, menyenangkan dan nyambung dengan anak.
3.Berusaha memahami kebutuhan anak, termasuk bahasa anak. Menyelami games-games yang dimainkan supaya bisa menjadi pintu masuk Anda bicara dengan anak.
4.Rencanakan waktu untuk makan bersama dan rekreasi bersama. Ngobrol dengan remaja yang enak adalah saat situasi mereka juga enak, saat makan dan santai.
5.Jangan bicara apalagi dengan marah-marah kepada anak saat mereka sedang main games. Hal itu justru membuat mereka bertambah terluka. Berusaha bicara dengan menatap anak dengan kasih sayang.
6.Jika ibunya yang lebih nyambung, biar si ibu yang jadi juru bicara. Jika si ayah yang lebih tepat bicara, biar si ayah yang bicara dengan si anak. Jangan bicara saat anak sedang tidak suka Anda ajak bicara. Hanya menambah luka si anak.
7.Jika konflik makin tajam dan anak Anda sudah tidak mau mendengarkan Anda, maka pergilah menjumpai seorang konselor dan mediator keluarga agar ia menjembatani kembali komunikasi yang retak dan rusak.Konselor ahli tentunya punya cara untuk menyambung kembali tali komunikasi yang sudah putus. Jika komunikasi sudah terjalin dengan baik, ngobrol sudah enak, barulah orangtua bisa menyampaikan keinginannya seperti:
1). Disepakati bersama apa saja kegiatan yang juga mengasyikkan buat anak.
2). Hobi apa saja yang bisa dikembangkan dan disalurkan supaya perhatian anak tidak melulu ke games.
3). Mendengar aspirasi dan harapan anak kepada orangtua, dan sebagainya. Kalau sudah kecanduan, maka tidak ada jalan yang mudah dan gampang. Kadang membuat kita menangis dan berjuang kembali merebut anak-anak kita. Sebagai orangtua kitalah yang perlu dengan rendah hati berubah. Supaya dengan perubahan kita, anak-anak berubah.
Salam
Psikoterapi&Hipnoterapi
55246ECC
081299118446
Bagi orang tua pastinya yang memiliki anak akan tidak asing lagi dengan mendengar games, games dan games ketika sedang berdialog dengan anaknya. Dan pertanyaan yang kerap saya dengar adalah "Kenapa anak suka sekali bermain games?"Dan tentu saja jawsbannya juga kerap terdengar dan tidak akan asing lagi di lidah saya karena jawabannya sangat sederhana sekali menurut saya, "games itu memang enak dan mengasyikkan kok". Lalu mereka benggong mendengar jawaban saya ini. Sebenarnya anak ingin sekali bisa ngobrol dengan orangtua, bercanda berkumpul dan saling mengisi ruang fantasinya yang masih luas, kemudian seperti biasa yang akan terdengar ditelinga anak anda adalah "nanti ya nak, ayah masih sibuk anu.... dan anu.." intinya anda sebagai orangtua tidak mau terganggu dengan dunia anda sendiri dan supeerrrr sibuk layaknya anda adalah satu satunya pemimpin di dunia ini.
Padahal mereka ingin sekali diskusi dan curhat dengan ayah atau ibunya. Tapi cara bicara orangtua tidak asyik bahkan cenderung menjengkelkan seperti "Apa?!", "kok bisa?" "Jangan!!" dan segudang kata kata penolakan penuh curiga. Seandainya mereka berani mereka akan bilang "ayah/ibu aku butuh perhatian kalian". Mereka butuh orangtua yang enak diajak ngobrol dan jadi teman. Dari konsul dan pembicaraan tidakn langsung beberapa remaja berkata kepada saya, "Belum dengar papa mama bicara saja, muka mereka sudah tidak enak dilihat."
Mereka mengeluhkan bicara dengan orangtua sering tidak nyambung, emosi dan penuh penekanan padahal anak belum selesai bicara. Dalam keadaan seperti itulah mereka melarikan diri mencari kegiatan yang asyik. Ternyata mereka temukan dalam bermain games. Di tengah dunia yang makin mekanistik, banyak anak yang kesepian.
Mereka butuh hiburan. Inilah yang dimanfaatkan produsen games di seluruh dunia.Mereka menggelontorkan ribuan hingga jutaan games. Games itu sendiri menjadi sebuah kegiatan alternatif yang menghibur bagi anak-anak.
Mereka berhasil menghibur lewat dunia maya. Dengan begitu anak yang mendapati kekecewaan, dan kurang diperhatikannya oleh orang tua akan mencari hiburan suasana hatinya kepada alternatif yang paling nyaman menurut mereka.
Karena dunia nyata makin tidak nyaman, malah kadang menyakitkan dan kurang adil bagi anak anak maupun remaja, maka sebagian anak melarikan diri ke dunia maya. Menurut salah satu satu pakar peneliti anak remaja, pernah meneliti di kalangan remaja tentang apa yang mereka inginkan dari orangtua. Dan akhirnya menemukanlah sebuah jawaban yang sama
Dua jawaban tertinggi itu adalah:
1).Bisa jadi tempat curhat
2).Ada waktu untuk lebih sering ngobrol". Jika kita tidak memberikan komunikasi yang baik pada anak-anak dengan segenap waktu, tenaga dan pikiran kita, maka hal itu bisa diambil alih oleh media audio-visual. Sesungguhnya kita sedang berlomba dengan media.
Meski games sangat disukai anak-anak tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh games terhadap anak kita. Hanya kita yang bisa melakukannya.
1).Tidak dapat menyebut atau memanggil nama anak kita dengan emosi, tidak mempunyai perhatian secara pribadi, anak kita dianggap sebagai konsumer/pelangan bagi games. Kitalah pribadi yang bisa memanggil namanya, memperhatikan dia, menatap matanya, dan berkomunikasi secara pribadi dengan dia.
2).Tidak dapat memangku anak kita atau memeluk anak kita.
3).Tidak bisa membacakan buku cerita sebelum tidur.
4) Games juga tidak pernah bisa mendengarkan anak kita. Dan sebuah pertanyaan yang sangat banyak di lampirkan orang tua anak anak, remaja bahkan sampai yang sudah dewasa sekalipun dan bila Anak Sudah Terlanjur Kecanduan Games (maniak games) adalah:
Bila anak terlanjur kecanduan games, apa yang orangtua akan lakukan selanjutnya?Kecenderungan orangtua adalah mengeluhkan anaknya. Minta supaya anaknya dikonseling, minta agar anaknya berubah, dan lain sebagainya. Ini terbalik.
Sesungguhnya, orangtualah yang perlu dikonseling. Orangtualah yang harus berubah terlebih dahulu. Jangan paksakan anak berhenti main atau mengurangi games terlebih dahulu. Tidak! Tetapi sementara anak belum bisa lepas dari games, orangtualah yang mengubah diri.Beberapa saran praktis bagi orang tua:
1.Sediakan waktu dan kebersamaan dengan anak lebih banyak. Menemani anak di rumah. Jika Anda sangat sibuk, aturlah sedemikian rupa. Anggap saja anak Anda sedang "sakit" dan perlu ditemani.
2.Mengembangkan cara berkomunikasi yang lebih enak, menyenangkan dan nyambung dengan anak.
3.Berusaha memahami kebutuhan anak, termasuk bahasa anak. Menyelami games-games yang dimainkan supaya bisa menjadi pintu masuk Anda bicara dengan anak.
4.Rencanakan waktu untuk makan bersama dan rekreasi bersama. Ngobrol dengan remaja yang enak adalah saat situasi mereka juga enak, saat makan dan santai.
5.Jangan bicara apalagi dengan marah-marah kepada anak saat mereka sedang main games. Hal itu justru membuat mereka bertambah terluka. Berusaha bicara dengan menatap anak dengan kasih sayang.
6.Jika ibunya yang lebih nyambung, biar si ibu yang jadi juru bicara. Jika si ayah yang lebih tepat bicara, biar si ayah yang bicara dengan si anak. Jangan bicara saat anak sedang tidak suka Anda ajak bicara. Hanya menambah luka si anak.
7.Jika konflik makin tajam dan anak Anda sudah tidak mau mendengarkan Anda, maka pergilah menjumpai seorang konselor dan mediator keluarga agar ia menjembatani kembali komunikasi yang retak dan rusak.Konselor ahli tentunya punya cara untuk menyambung kembali tali komunikasi yang sudah putus. Jika komunikasi sudah terjalin dengan baik, ngobrol sudah enak, barulah orangtua bisa menyampaikan keinginannya seperti:
1). Disepakati bersama apa saja kegiatan yang juga mengasyikkan buat anak.
2). Hobi apa saja yang bisa dikembangkan dan disalurkan supaya perhatian anak tidak melulu ke games.
3). Mendengar aspirasi dan harapan anak kepada orangtua, dan sebagainya. Kalau sudah kecanduan, maka tidak ada jalan yang mudah dan gampang. Kadang membuat kita menangis dan berjuang kembali merebut anak-anak kita. Sebagai orangtua kitalah yang perlu dengan rendah hati berubah. Supaya dengan perubahan kita, anak-anak berubah.
Salam
Psikoterapi&Hipnoterapi
55246ECC
081299118446
Tidak ada komentar:
Posting Komentar